Suatu Sore di Poliklinik

Suatu sore sekembalinya dari kantin kantor, saya menggunakan lift yang sama dengan salah satu dokter klinik kantor bersama dengan kedua anaknya yang masih SD. Saat itu, saya merasakan suasana yang cukup akrab dan hangat diantara ibu dan kedua anaknya tersebut. Saya melihat anak perempuannya bergelayut manja pada sang ibu saat sang ibu bertanya-tanya tentang berbagai macam hal padanya, sementara anaknya yang laki-laki lebih banyak diam.

Namun mendadak situasi keakraban ini berubah menjadi sesuatu yang tidak nyaman bagi sang anak, dan juga bagi saya yang sebetulnya bisa dikatakan sebagai orang asing. Berawal dari sebuah pertanyaan sang ibu kepada anak laki-lakinya “kenapa mukamu ada bercak putihnya? Panu bukan?” lalu kemudian berlanjut keributan kecil diantara ibu dan anak laki-lakinya karena si anak menjawab pertanyaan tersebut dengan asal-asalan.

Rupanya keributan kecil ini tidak terhenti bahkan ketika lift terbuka dan kami sama-sama keluar di lantai yang sama menuju ruangan yang sama yaitu poliklinik. Sepanjang perjalanan setelah keluar dari lift hingga menuju pintu masuk poliklinik, keributan terus berlanjut malah cenderung meningkat menjadi kata-kata kasar. Berkali-kali sang ibu berkata “kurang ajar kamu!”.

Saya yang berjalan persis di belakang mereka, rasanya sungguh tidak nyaman. Sebagai seorang ibu, saya hanya bisa kasihan melihat seorang anak kecil yang dibentak kasar ibunya seperti itu. Barangkali si ibu telah kehabisan kesabaran. Namun amat disayangkan mengapa hal ini harus dilakukan di tempat umum, di depan saya, di kantor. Bagaimana perasaan anak tersebut? Mungkin ini juga lah yang membuat si anak makin menjadi-jadi, tidak peduli dengan situasi.

Tiba di poliklinik, keributan terus berlanjut. Agak menyesal mengapa saya harus berada dalam situasi tersebut. Agak menyesal saya karena tidak mampu memisahkan ibu dan anak tersebut. Agak menyesal mengapa si ibu tidak jua menghentikan pertengkaran itu. Agak menyesal karena saya harus melihat ketika si anak mendorong ibunya di dalam poliklinik dan tambah menyesal karena setelah itu si ibu berkata “kurang aja ya kamu! kamu belum pernah ya tinggal di panti asuhan?! awas nanti kamu dikirim ke panti asuhan aja!”

Oh tidak, bagaimana si ibu dapat berkata setega itu kepada anaknya sendiri karena berawal dari persoalan yang sepele, menurut saya, “apakah wajahmu kena panu?”

Bagaimana reaksi si anak? Si anak pada akhirnya duduk menghempaskan diri di kursi poliklinik, sementara si ibu masih saja berkata-kata kasar. Diamnya sang anak, sukses meluluhkan hati saya yang hanya sebagai outsider di ruangan tersebut tapi tetap tidak mampu meredam kemarahan sang ibu. Sementara si adik juga hanya duduk diam di sudut ruangan lainnya sambil menatap kakaknya.

Puncaknya si ibu berkata kepada anaknya, sebuah kalimat yang amat tajam. “Dasar anak s***n loe!”. Dan selesailah sudah pertengkaran ibu-anak ini. Dengan ekspresi muka yang terlihat masih marah, si anak hanya bisa memukul tembok tempat ia bersadar, lalu kemudian diam.

Si ibu tidak pernah tahu bagaimana dampaknya secara psikologis bagi anak-anaknya. Dampak yang cukup besar yang pastinya akan berpengaruh pada masa depannya. Barangkali si ibu tidak tahu bahwa kata-kata kasarnya akan terekam dalam memori jangka panjang anaknya, bukan hanya anak lelakinya tetapi juga anak perempuannya.

Sekarang si anak hanya bisa membalas dengan kata-kata yang juga kasar, tidak tahu 10 tahun lagi. Sekarang si anak hanya bisa diam, diam menerima makian ibunya yang tiada habisnya, tidak tahu 10 tahun lagi. Sekarang si anak hanya bisa mendorong ibunya (saking kesalnya), tidak tahu 10 tahun lagi. Sekarang adiknya hanya bisa diam melihat kakaknya diperlakukan sedemian kasar (dan mungkin juga dirinya juga pernah diperlakukan demikian), tidak tahu 10 tahun lagi.

Well, saya yang tak mampu melerai ini hanya bisa berdoa semoga si ibu diberi kesabaran yang tak terkira sehingga mampu berkata lebih bijak lagi terhadap anak-anaknya. Jika keributan seperti ini saja bisa dilakukan di tempat umum, maka saya tak mampu membayangkan bagaimana mereka diperlakukan di rumah. Mungkin si ibu sedang mempunyai masalah dengan suaminya atau dengan pekerjaannya, tapi sungguh tak adil jika kemudian anak-anak yang menjadi korban.

9 respons untuk ‘Suatu Sore di Poliklinik

  1. ah, aku pernah ngalamin jg mba…ngedengar lgs seorang ibu yg sdg ngebentak2 anknya pake kata2 super kasar dan sekeras TOA -__-. Kata2 kebon binatang enak aja diucapin ama si ibu k si anak.. hihhh, ga abis pikir, kata2 ibukan doa ya… masa sih ngedoain anak2nya dgn binatang2 gitu 😦

    • padahal saya jug kalau kesel sama anak trus kata2nya agak keras dikit itu langsung nyesel rasanya, terus anaknya langsung dipeluk, gak kepikiran untuk nyebut bahasa binatang itu 😦

  2. ratusya berkata:

    Speechless mak. Ya kalo kita sebagai outsider mungkin sama berpikirnya seperti mak, kesian sama anaknya, cuma gegara kalimat si ibu yg mungkin melukai perasaan si anak.
    Ya semoga jika asumsi kita benar, si ibu lebih diberi kesabaran ya.

    Salam kenal mak 🙂

    • Halo mak, salam kenal, makasih udah mampir ke blog saya yang nulisnya tergantung mood, hehe

      iya mudah2an si ibu diberu kesabaran yang tanpa batas sebelum dia menyesal kemudian 🙂

    • kasian anaknya, masa di depan umum begitu, masa sih gak bisa diomongin baik2, toh kan asal masalahnya juga sepele, cuma bisa geleng2 kepala, padahal rasanya pengen meluk anak itu 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s