“Are You Standing In Line?”

Menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan dan tentu saja wasting time, apalagi jika kita memang sedang berada dalam kondisi in a rush. Salah satu pekerjaan menunggu yang memang mau tidak mau harus dilakukan adalah menunggu antrian. Tidak ada kata lain selain kata sabar yang perlu dilakukan karena dalam hal ini setiap orang mempunyai peluang sama untuk mencapai tujuan yang sama.

Hal yang paling menyebalkan disaat menunggu antrian adalah ketika muncul seseorang yang dengan seenaknya menyerobot antrian. Lebih kerennya lagi, orang tersebut seolah tidak merasa bersalah telah menyalip hak orang lain. Barangkali orang tersebut menerapkan salah satu prinsip pembukuan dalam ilmu Akuntansi yaitu LIFO alias “Last In, First Out”.

Sepertinya, hal tersebut sudah menjadi hal yang lumrah di negeri tercinta ini, seperti yang baru saja saya alami kemarin (26/02). Untuk pertama kalinya, setelah menikah satu bulan, saya dan suami berolahraga di Monas. Sekitar pukul 10.30, kami memutuskan untuk melihat-lihat puncak Monas dan ternyata antrian menuju lift benar-benar mengular, entah berapa puluh meter.

Awalnya kami menikmati antrian tersebut. “Toh ini hari Minggu, bukankah aneh kalau tidak mengantri sepanjang ini,” pikir kami. Namun “kesenangan” kami mengantri segera saja tergantikan oleh rasa kesal tiada terkira karena ulah sepasang suami-istri yang menyelak antrian kami. Setelah satu jam kami mengantri dalam kondisi panas terik dan itu pun baru setengah antrian terlewati, tiba-tiba manusia di depan kami telah berubah dalam hitungan detik. Lho koq seenaknya begitu ya?

Kami tak kuasa untuk marah karena hanya akan memancing keributan kecil saja. Lebih kesalnya lagi karena kami juga tak mampu menegur mereka. Ada kemungkinan mereka menyangkal dan keras kepala, serta belum tentu orang yang pada awalnya berada di depan kami, dan sekarang jaraknya dua-tiga langkah didepan kami, akan mengingat kami pernah berada persis di belakang mereka atau lebih tepatnya menjadi saksi bagi kami.

Hal yang lebih mengagumkan adalah ketika serombongan orang melintasi antrian kami lalu berkomentar “panjang sekali antriannya”. Dengan entengnya mereka -sepasang suami istri tadi- berkata, “Iya tadi kami sudah antri satu jam dan baru bergerak 20 meter saja”. Jleb! Kalimat tadi adalah kalimat saya saat berdiskusi dengan suami, persis di belakang mereka, saat antrian kami berubah formasi dalam sekejap.

Kejadian ini mengingatkanku pada sebuah memori kecil namun cukup berarti. Saat itu saya mendatangi sebuah bioskop di salah satu mall. Tujuannya mencari film yang mungkin asik untuk ditonton sambil menunggu suami yang sedang rapat tidak jauh dari lokasi mall.

Saat itu suasana bioskop tidak terlalu ramai. Lama kuperhatikan empat judul film yang saat itu sedang tayang berikut jam tayangnya. Sadar bahwa saya belum memutuskan akan nonton atau tidak, saya mengambil jarak sekitar 15-20 langkah dari pengantri tiket terakhir. Beberapa menit kemudian, perhatian saya beralih pada suara yang berasal dari samping kiri saya.

Are you standing in line?”

Refleks kepala saya bergerak mengikuti sumber suara. Tiga orang bule berdiri di samping saya, dua laki-laki dan satu perempuan. Rupanya sumber suara berasal dari salah satu bule laki-laki. Mereka akan membeli tiket namun ragu untuk mengambil antrian karena melihat saya yang berdiri sebanjar dengan pengatri terakhir meskipun jaraknya jelas cukup jauh.

Masih berada dalam kondisi kagum pada ketiga bule tadi, dengan tegas saya mempersilahkan mereka untuk mengantri di depan saya. Barulah ketiga bule tadi berjalan mengikuti antrian. Luar biasa, batin saya. Itulah bedanya kultur Indonesia dengan luar Indonesia. Disiplin adalah harga mati. Mereka tidak lantas menyerobot antrian sebelum dipastikan bahwa orang yang berada paling belakang, meskipun jaraknya cukup jauh, memang tidak ikut dalam antrian tersebut.

Lantas saya teringat pada cerita teman saya. Beberapa hari setelah gempa dan tsunami meluluhlantakkan kawasan pantai Timur Jepang pada 2011 lalu, berbagai bantuan pun mengalir bagi para korban. Hal yang menarik adalah ketika salah seorang anak kecil ikut terlibat dalam antrian tersebut. Posisinya berada di bagian belakang antrian. Melihat hal tersebut, anak kecil tersebut ditawari oleh salah seorang relawan untuk maju ke antrian paling depan supaya lebih cepat mendapat bantuan dan tentunya tidak ikut berdesakan dengan pengantri lain yang umumnya orang dewasa.

Apa reaksi anak kecil tersebut? Dengan tegas ia menolak dan memilih untuk tetap pada posisinya. Sungguh suatu hal yang luar biasa, bagi saya, mengingat dia hanyalah seorang anak kecil namun nilai-nilai kedisiplinan telah melekat dalam dirinya. Bagaimana kalau di Indonesia ya? Jangankan anak kecil, orang dewasa saja, dalam kondisi yang sama seperti itu, rasa-rasanya tidak akan setertib itu. Kemungkinannya cuma dua: menyelak antrian atau membuat antrian baru secara inisatif. Selanjutnya, bagaikan sebuah magic, tindakan ini segera diikuti oleh yang lainnya. Ujung-ujungnya ya ricuh. Barangkali teman-teman yang sering naik Trans Jakarta hampir setiap hari megalami hal seperti ini.

Entah mengapa kata Disiplin ini sungguh sulit diterapkan di negeri kita? Koentjaraningrat, Bapak Antropologi Indonesia, dalam bukunya “Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan” sejak puluhan tahun lalu telah menyatakan bahwa orang Indonesia memang memiliki sikap mental “nerabas”. Sikap mental ini diartikan oleh Pak Koen yaitu nafsu untuk mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa banyak berusaha secara bertahap dari awal hingga akhir. Sikap mental inilah yang kemudian menyulitkan seseorang untuk bersikap disiplin.

Namun apakah sikap mental tersebut akan tetap dipertahankan? Sampai Kapan?

Kembali kepada cerita saya di awal tulisan, mungkin sekilas sikap tersebut hanya merugikan orang lain saja dan disisi lainnya menguntungkan diri sendiri. Namun sesungguhnya hal itu juga akan merugikan diri sendiri dalam jangka panjang. Terbiasa tidak disiplin dan terbiasa menerabas berarti terbiasa hidup instan. Kita tidak akan pernah tau makna dari perjuangan dan kerja keras. Padahal hasil usaha dari sebuah kerja keras akan terasa lebih nikmat jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh secara instan.

2 respons untuk ‘“Are You Standing In Line?”’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s