Ubah Tenda jadi Sekolah Anjal

Keberadaan anak jalanan sudah menjadi lazim di Jakarta, salah satunya adalah di Tanjung Priok, kawasan pelabuhan yang juga identik dengan pemukiman kumuh. Di wilayah ini, anak-anak usia TK hingga SD telah dibiasakan untuk mengamen dan memulung tanpa mempedulikan pendidikan. Hal inilah yang membuat sejumlah pihak tertarik untuk membantu pendidikan anak-anak tersebut.

“Pada awalnya, keseharian anak-anak ini adalah mengamen dan menjadi pemulung di kawasan Stasiun Tanjung Priok. Mereka tidak menikmati bangku sekolah. Akhirnya, kami berinisiatif membentuk kelompok belajar di belakang stasiun dan sekarang berkembang jadi sekolah,” ujar Bintara, salah satu pendiri sekaligus pengajar di sekolah Pondok Domba kepada saya saat mengunjungi sekolah tersebut bersama dengan beberapa perwakilan dari Pohang Steel and Iron Company (POSCO), Korea, NGO Korea Food for the Hungry International (KFHI), dan Community Chest of Korea beberapa waktu lalu.

Pondok Domba bermula dari sebuah tenda yang dibangun di belakang Stasiun Tanjung Priok dengan aktivitas utamanya adalah menghimpun sejumlah anak jalanan usia TK-SD untuk belajar bersama sejak beberapa tahun silam. Kegiatan belajar yang sifatnya sederhana ini mengundang perhatian Choi Won Geum, aktivis KFHI asal Korea Selatan, untuk lebih mengembangkan kegiatan tersebut menjadi sebuah sekolah.

“Saya tertarik untuk membantu mereka, karena sering melihat tenda belajar mereka saat saya membagikan makanan gratis untuk anak-anak jalanan di Stasiun Tanjung Priok. Akhirnya, saya membantu mendirikan bangunan sekolah untuk mereka. Sekarang saya hanya membantu memberikan buku dan peralatan sekolah saja setiap bulan,” kata Choi Won Geum.

Perekrutan siswa Pondok Domba berbeda dengan sekolah formal lainnya. Menurut Bintara, sebelum anak tersebut menjadi siswa Pondok Domba, ia akan diberikan tes kemampuan siswa terlebih dahulu untuk mengukur kemampuan siswa. Hasil tes akan menentukan siswa tersebut dikelompokkan ke dalam kelas yang mana.

“Siswa-siswa di sini terbagi menjadi siswa yang belum pernah sama sekali sekolah dan siswa yang putus sekolah, sehingga walaupun umurnya sama, kemampuannya berbeda. Oleh karena itu, sebelum siswa tersebut ikut bersekolah di tempat kami, ia akan diberikan tes kemampuan terlebih dulu,” kata Bintara yang pernah menjadi jurnalis di Kota Medan tersebut.

Sayangnya, sekolah Pondok Domba ini tidak memfasilitasi siswa kelas enam, karena dirasa belum mampu menyelenggarakan pendidikan bagi siswa tingkat akhir. Solusinya, siswa kelas lima yang naik ke kelas enam dialihkan ke sekolah lain yang dekat dengan wilayah tempat tinggal mereka.

6 respons untuk ‘Ubah Tenda jadi Sekolah Anjal

    • lokasinya di dekat terminal tj. priok… kebetulan sekolah ini juga di-support oleh LSM Korsel yang bernama KFHI (Korea Food For Hungry Indonesia) 🙂

      • Briggitte Chandrawidjaya berkata:

        Wow…berarti anak2 ini mendapat program feeding yah! Saya tertarik untuk melihat… 🙂

      • KFHI support pembiayaan untuk operasional sekolah aja sih… kl program feeding, mereka ada juga program memberi makan untuk anak2 jalanan yang di sekitar terminal tj. priok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s